Thursday, August 27, 2009

Komunitas Sepeda Lowrider

Komunitas motor dan komunitas mobil di Indonesia kini sudah banyak dikenal masyarakat. Sekarang giliran komunitas pecinta sepeda yang mulai menggeliat dan menunjukkan hasil karyanya di dunia lifestyle sport. Dan kemudian kalo diperhatikan lagi trend dalam dunia lifestyle sport bergeser pada dunia lowrider. Yakni, sepeda dengan modifikasi khusus ala motor Choppers membuat dunia serasa jadi orang Chicano. Komunitas-komunitas lowrider pun banyak ditemukan di beberapa kota besar seperti Bandung, Bali, dan Jakarta. Salah satunya adalah komunitas lowrider Lonely King asal Bali yang dikomandoi oleh Jerinx, drummer Superman Is Dead. Dengan berbagai modifikasi dan style, maka geliat anak muda semakin terasa menggembirakan. Setidaknya ini adalah nafas segar buat style anak muda saat ini. Selain skate dan BMX, setidaknya lowrider adalah gaya anak muda urban yang seolah ingin menunjukkan rasa kekerenannya.

Lowrider bermula sebagai elemen budaya Chicano Americans atau bagian dari street culture di Amerika yang masih menjadi bagian dari imigran Meksiko. Lowrider telah menjadi produk urban culture, dan crossover antara Harley dan cruiser bikes. Biasanya lowrider dapat ditemui dalam parade atau karnival orang-orang Amerika. Popularitas lowrider mulai menanjak pada akhir tahun 70-an karena penggabungan dua kultur antara Califoria car culture dengan Mexican culture. Lowrider seringkali dikaitkan dengan produk-produk budaya Chicano lainnya macam Chevy Impala/ Impala SS, Chevy's, Tattoo's, Zootsuits. Pachuco's, dan Zootsuit Riots.

Dengan penampilan yang tak kalah nyentrik,mereka menunjukkan jati diri berbeda. Sepeda ceper zaman ’70-an yang dimodifikasi dengan berbagai gaya baru yang unik. Setang panjang model chooper, sedangkan bodi hingga ban dibuat klasik, dengan permainan warna-warni yang cerah. Style sepeda menunjukkan jiwa muda yang penuh gaya. Dan komunitas-komunitas pecinta lowrider yang berada di Jakarta semakin banyak. Untuk Jakarta saja, yang tergabung dalam komunitas Jakarta Street Low Rider mencapai 400 orang. Masing-masing orang umumnya memiliki beberapa sepeda. Komunitas yang terbagi dalam beberapa wilayah atau yang biasa disebut chapter. Dan di Jakarta sendiri memilik enam chapter sesuai dengan pembagian wilayah kota Jakarta itu sendiri.Sunset Riders

Lowrider sendiri merupakan representasi kekeranan urban culture, jadi sepeda ini seringkali dipakai untuk rileks setelah capek kerja. Komunitasnya memiliki jumlah yang banyak dan seringkali ditemui pada akhir pekan atau hari libur. Dan hal ini seperti yang dilakukan Sunset Riders, yakni salah satu komunitas lowrider yang berada di chapter Pusat. Komunitas lowrider yang terbentuk sejak pertengahan tahun 2006 ini biasanya jalan-jalan bareng ke sebuah tempat seperti wilayah Cikini, Menteng, ataupun Jalan MH Thamrin tiap Sabtu malam.

Dan tidak hanya itu komuntas ini juga kerap mengikuti kontes, hunting barang-barang sepeda, hingga membuat sepeda sendiri, adalah kegiatan yang sering dilakukan para anggota komunitas Sunset Riders. Para anggota komunitas ini sering sekali memproduksi atau memodifikasi sepeda-sepeda yang mereka miliki. Melihat keunikan yang ada pada sepeda-sepeda kecil itu, tentunya mengusik rasa ingin tahu. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk kepuasan tersebut. Rata-rata si pemilik sepeda itu bukan sekadar punya. Seperti Gandung salah satu anggota Sunset Riders yang rela mengeluarkan uangnya hingga 2-3 juta.
Namun Harga itu menurut dia tergolong murah. Sebab, bila ingin membeli sepeda yang langsung jadi, harganya lumayan mahal.Untuk order satu sepeda orisinal dari produsen luar negeri, harganya bisa mencapai Rp8 juta–Rp12 juta. Meskipun mahal, ternyata barang itu sangat ringkih.Dan tidak jarang Gandung dan para anggota Sunset Rider lainnya berburu batangan sepeda sebagai bahan baku modifikasi sepeda yang diidam-idamkan. Mulai dari tukang cendol dan sepeda anak kecil sudah pernah jadi incaran Gandung dan teman-temannya. Seperti yang dikutip seputar-indonesia.com, Gandung mengungkapkan untuk mendapat batangan sepeda yang bagus dan kuat agak sedikit sulit didapatkan. “yah, kalo dijalanan ada seperti sepeda anak kecil saya buru langsung memburu barang itu”, ujar Gandung. Hoby yang tidak murah ini memeberikan alternatif baru bagi para pecinta lifestyle sport. Dan hal ini merupakan pergeseran budaya barat, dan menjadi urban culture yang semakin banyak di kota-kota besar.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment